Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2024

Puncak yang Tak Pernah Sampai

Mungkin ini menjadi yang terakhir  Sudah cukup sepertinya ku daki Aku tetap tak sampai di puncak Ketika dinginku menjadi luka Aku terus mendakimu Namun aku tetap saja tak sampai di puncak Sebab sejak itu adalah pilihanku  Kini ku putuskan menjadi yang terakhir Pergi tanpamu yang tak lagi jadi ruteku

Akankah Kita?

Pada hari-hari yang membuat kita lelah Berharap temukan yang hilang di kala itu Meniadakan prasangka yang menjadi celah Mencoba yang belum usai membisu Banyak yang ingin ku katakan padamu  Bahkan untuk yang belum ku susun urutannya  Bahkan yang masih menjadi puzzle  Bahkan yang belum terpikirkan sekalipun Akankah kita mampu? Ketika piluku seakan memudar  Harapku penuh terbuka lebar Namun bimbangku masih saja meragu

Bukan Lagi Aku Pemeran Utamanya

Kasihku, ilalang itu semakin tinggi daunnya Ku rasakan kasar permukaannya  Ku bilang hati-hati takut kau terluka  Namun kau tak dipenuhi rasa percaya  Kasihku, mungkin kau sudah lupa ? Saat-saat ku menjadi yang paling kau percaya Apakah telah ada penggantiku? Tak pernah terpikir membuatku semakin ragu Kasihku, tenggelam sepertinya aku Lolongan itu mematikan riangku Habis masanya peranku di hidupmu  Berhenti, tak akan sampai lagi padamu

Renjanaku dengan Rindunya

Gala  bunga bermekaran  Tatkala musim pun kian datang bergantian  Menyapa riang dan riuh dalam kehangatan  Renjanaku penuh dengan harapan  Sampaikan aku pada keikhlasan  Temukan aku dengan yang ku cari, sesuatu yang ku rindukan 

Bersama Teduhnya Awan

Kita yang berteduh di balik awan. Berharap sejuk sejenak kala angin meneriakkan kencangnya . Selasar sudut yang bergema, membuat seolah lupa pada apa yang dirasa. Biar kita mengeluh dengan tanpa menyerah, Sesekali saja,  Dengan harap tak menjadi sia-sia 

Mencoba dengan Cara yang Tak Biasa

Saat itu, yang telah terjadi lama Menyisakan kenangan yang membekas tanpa lupa  Saat itu, yang telah bersiap mengudara  Menghanyutkan perasaan gundah dan gulananya Mencoba bersama cara yang teruji Merantai ketakutan dengan belenggu  Berlari jauh ke sana dan kemari Menghadapi kenyataan yang tak bisa diganggu  Yang tak biasa perlahan dicoba Mengakali dengan ada dan tiadanya cara Luka hampa tanpa akhir yang pasti Menerima yang menja di resiko diri

Terlelap Menatap

Malam memang dingin setahuku Tapi itu tetap saja tak sedingin sikapmu Saat hendak ku lemparkan sapaan Kau berbalik arah jauh ke belakang Namun di hari itu kau tak sedingin biasanya Sempat ku dengar apa yang kau ucap Anehnya aku seakan mematung menatapmu dari jarak yang dekat Piluku seakan terobati Menyusuri celah-celah yang pernah ditangisi Menghapus segala kelaraan yang merajai Walau hanya sesaat, terlelap menatapmu ya ng ku ratapi

Metanoia Penuh Luka

Mengawali hari yang terasa kan amat panjang Menelaah sudut-sudut yang terdiam ria Bertanya pada siapa   Kosong selasarku tampak remang Candramawa terlihat membingungkan Perjalanan yang tak pernah sampai Ke tepian seakan lihai Terluka terlibas luka mendalam Jika kayu bermain-main dengan api Apakah dia bisa tetap menjadi kayu? Jika hujan tak ditandai mendung Apakah rintiknya t etap menjadi hujan?

Me-relakan

Senandika, pergi berkelana Menempuh jarak yang tapa titik Meramu pada daratan yang hampa Tak sampai jua walau terus ditelisik Sandyakala menyapa kala itu Berkata dengan kehangatan Memeluk keraguan yang telah lalu Cahaya arunika menjadi saksi Kepergian yang tak terelakan Melupakan sang waktu tanpa  b erpamitan

Kembali Padaku

Bunga yang mekar telah berguguran Menampakan sisa waktu yang kita miliki Harapku memperjelas yang berasalan Ketika tiba masanya ku lihatmu kembali Sapaan hangat ku utarakan Padamu yang ku nantikan Membawa kita pada terangnya bulan Kembali padaku, wahai  kerinduan

Cahaya Kudapatimu

Perlu waktu dan sebab yang menguatkan Memulai sesuatu yang ku coba luluhkan Semampuku mengakrabkanmu dengan yang ragam Sekuatku melindungimu dari yang tajam Seperti saat-saatnya terjadi Tak lagi dendam pada yang kau takuti Mendukungmu dan bersamamu Kendaliku, harap cahayaku me nerangimu

Rona Bulan yang Tenggelam

Terjebak, lubang yang melebar Rona yang terlihat, sungguh mendasar Kepekatan dan kepekaan Melekat kuat berkaitan Barat menjadi tempatnya tenggelam Saat kita menyaksikannya di perjamuan Menyanyikan yang kita suka  Meriuhkan yang kita rasa Jelas saja kan berbeda Sisi yang dipenuhi tak tertakar sama Setengahnya redup, setengahnya kabur Rona yang nampak, ki an melebur

Seandainya Bertemu Kembali

Pilu membiru meramaikan diriku, yang telah hilang separuh. Kesempatan yang dulu itu, mudah bagi kita tuk menjauh. Kala seandainya terjadi Pada siapa hati kan mencari Yang dikejar tolong jangan berlari Sampaikan pada kita tuk bertemu kembali

Mengenang yang Usang

Lagu yang kau mainkan,  seakan aku penciptanya. Hafal sudah, di luar kepala. Mengenang kembali Haruskah baik-buruknya ku tiadakan? Atau tetap ku samaratakan? Usang biarlah usang Terlintas menjadi yang berkesan Namun bila kala itu tanpa bebatuan, Akankah ceritany a tanpa usang?

Kala Langit Tersenyum

Di bawah langit yang sama, kita Berpijak di rotasi yang sama, kita Menunggu bertemu, kita, akankah? Seakan semesta tau jawabnya Berlebihan mengharapkan Sesuatu yang membahagiakan Kala langit melihat kita Jika senang, apa tandanya? Kita bisa lihat dari mana? Sayangnya kala itu, Langit tak pernah beri t  t ahu maknanya.

Dipenuhi Kabut

Kala siang menjadi malam Tanpa suara namun bising berbisik Hari itu ku lihat langit menjadi abu Rasanya seperti sama namun tabu Tempat mana yang menjadi favoritmu? Andai lupa ku bisa ku atur Tak ku penuhi memoriku dengan itu Tak perlu lagi ku berbaur Berharap hujan tak kurasakan Cukup bagiku tuk merenungkan Kabut dan kepenuhanmu Berhamburan t anpa izinku

Terdengar Gemuruh dan Riuhnya

Setitik lagi kan sampai di tepian Ujung dari perjalanan yang panjang Kita sampai di belokan yang bercabang Bingung sejenak di peristirahatan Hujan menyapa tanpa mendung Juga awan yang menghadiahi sesuatu Gemuruh sejenak terdengar Menusuk bersamaan dengan suara yang tak kukenal Bilang padanya baik dalam kondisi apapun Gemuruh tak lagi kurisaukan Bola mata yang tak lagi berani ku tatap  Seakan gemuruh, membantu  memperjelasnya

Mudah Bagimu

Tak seperti rintik hujan yang menunjukkan kesederhanaan Jatuh tak membuatnya marah Tak juga seindah pelangi yang hadir setelah rintiknya pergi Hanya sejenak tak membuatnya kesal Pada yang sedang diharapkan Sesuatu dapat terjadi tanpa pemberitahuan Yang dicintai bisa pergi Melupakan rasa yang tertinggal di hati Bersembunyi dalam ramai Mudah walau tak jadi segalanya Meski dirasa lebih baik Kamu tetap saja men yembunyikannya

Meskipun Belum Tentu

Yang pergi belum tentu kembali Yang ada belum tentu tinggal Yang dekat belum tentu bertahan lama Yang bersama belum tentu selamanya Pandangan yang buram seakan buta separuh Bagaimana membedakan jika yang dirasa sama Tak ada referensi pada kamus yang tak lagi utuh Ketakutan menguasai rasa percaya Belum tentu, lagi-lagi pada yang ada Sama-sama mencari jika bisa Temukan yang ingin ditemui Alasan kuat tuk m emulai lagi

Waktu-Mengandalkan

Kita tak bisa memaksakan Sesuatu yang terlihat utuh, terkadang bisa saja tak sesuai Mencoba tuk berlarian Nyatanya waktu membuat kita mundur memulai Tapi tak apa beda dari yang direncanakan Ada kalanya duduk sejenak di pemberhentian  Kita hanya mencoba yang kita mampu Merelakan dan mengandalkan s ang waktu

Merindukan yang Telah Hilang

Berkelana mencari sesuatu yang hidup Tak berhenti sampai asa berkata cukup Mentari risau pabila ragaku terlalu jauh Merindukan pernah yang tak lagi utuh Saat tak ditemukannya jalan Tak ada yang terlintas tuk mengalihkan Diam menjadi yang terangankan Seakan membaik dengan demikian Rindu kadang tak beralasan Membuat kita seakan mampu menggapai Menjadi beban tanpa akhir Rindu yang tak  terselesaikan

Mengawali yang Tiada

Bahagiaku tenggelam di pelupuk mata Mencoba mencari jalan yang lain Tanpa henti berharap tak sia-sia Memulai kembali di titik yang berangin Pada yang hidup di sebuah istana Bagaimana rasanya di sana? Batasan mengapa menjadi lebih jelas Apa tiadaku tak be rbekas?

Mengukir Bahagia dalam Angan

Aku gelap dalam ruang Aku sepi dalam tenang Aku meramu dalam kekosongan Aku berlari dalam kehampaan Seperti ombak yang sedang surut Tanpa celah tak ada yang tak luput Ke tepian berhamburan Terhempas jauh berlarian Pikirku jauh mengudara Namun langkahku tersendat Seakan jatuh bukan ke tanah Seakan hilang begitu saja Bahagi aku, ada dimana?

Sampai yang Tak Sampai

Kita sampai di titik terang Namun tak sampai dalam tenang Menjadi beban penuh bayangan Keselarasan yang tak terjamukan Hilang sepertiga dari setengah yang pekat Mengapa atau bagaimana? Diam di tepian menunggu lekat Tak tersampaikan dengan cara, lalu apa? Banyak pilihan merampungkan Tanpa jawaban tak ada kemampuan Hilang lagi di pertengahan Tersesat kembali d i perjalanan

Membangun Kesia-siaan

Aku mendaki bukit yang tinggi Sedang kau hanya diam di dataran Aku menyapa air laut yang dingin Sedang kau hanya diam di perapian Mengapa hanya menjadi angan? Mengapa mengusahakan kesia-siaan? Sekarang bagaimana? Kita harus apa? Bertemu menjadi sulit  Merencanakan selalu dengan waktu Sedang bagi kita menunggu terlalu pelik Sampai perlahan menja uh tanpa ragu

Perkenalan Setengah Dalam

Kita yang saling mengenal dalam kesengajaan Tumbuh pada angan yang legam Mencoba dekat menggenggam Rupanya tak sanggup bertahan Kita dekat tapi asing Berjarak di persimpangan Pada hari-hari yang terlewati Lama namaku, kini tak lagi terdengar Riuhnya angin menelisik di setiap sudut  Menumbangkan rasa karsa yang tumbuh Aku yang meratap lelah terlelap Menyerah padamu yang ta k lagi kuingat

Menyudahi Tanpa Memulai

Sesuatu yang tak nampak, sulit tuk dinilai dari luar Meskipun bukan sesuatu yang diharapkan, terima kasih telah menunjukkan  Sesuatu yang dinilai dari segala sisi, tak peduli berlawanan Menghapusmu, kini menjadi jalan keluar Kau yang sedikit kata, dan aku yang menyusun kata Raihku tak sampai pada rasamu Sebab kau terus berlari Menjauh dariku yang sedang menyusunnya Menyudahinya, selalu baik untukmu Memulainya, selalu menyiksaku Kini, tak ada lagi itu Dinginmu, dan semarak lukaku

Ranting dan Daun

Kita seperti ranting dan daun Aku ranting yang terikat tanpa kekuatan Sedang kau daun yang mudah berubah Saat tiba masanya, gugurmu tak dapat ku cegah Menjadi singkat dalam sekejap Kau yang tak mampu ku peluk Tak mampu ku dekap

Bersembunyi dalam Ragu

Pada awan yang bersembunyi di balik ragu Berhadapan dengan wajah yang sendu Seketika hadir seakan tau Kesedihan dan air mata, jatuh bersamaan dengan rintikmu Pada hari yang melelahkan kita terpejam Lupa sejenak dalam kebimbangan yang meredam Mempertahankan selalu sulit Untuk kita yang terjebak dalam  keraguan

Ruang Hampa

Aku adalah ruang Kekosongan yang ku sengajai Menyisakan tempat tuk kau tinggal Meniadakan tempat lain tuk disinggahi Tak kurasakan kehadiranmu dalam ruang Seperti terselimuti kehampaan yang pekat Memberiku jarak yang tak dapat kulihat Masihkah kau dalam ruang?

Kelam

Irama hujan membuatku larut Pada kisah kita yang seperti laut Diterpa pasang Diterpa surut Kelabu dalam pandangan malam Kelabu dalam rasa yang fana Membiarkan tekanan berkuasa Membiarkan diri tuk tetap diam Kita disapa angin kecil sudah berlari Tersandung dalam lubang yang kelam Saling menyalahkan Tak terima dengan apa yang ditampakkan Mencoba untuk mengubah Sudah dicoba, kita menyerah Kelam terlalu menakutkan Untuk kita yang enggan tumbuh, tak sanggup bertahan